Sabtu, 27 Februari 2016

Lelaki yang dipilihkan Allah untukku (Story about my wedding)

Bismillah ...

Allah selalu memberikan apa yang dibutuhkan hambaNya, bukan apa yang diingkannya. Setiap hamba yang selalu berusaha mendekatkan diri padaNya, maka Allah memberikan jaminan bahwa hamba tersebut pasti akan disayanginya. Dan aku sangat meyakini itu.

Aku sudah berpikir tentang sebuah pernikahan sejak SMA, tepatnya kelas 2 SMA. Saat itu hidayah datang padaku, dan aku tahu bahwa pacaran tidak diperbolehkan oleh Allah. Maka aku ingin mentaatinya. Karena aku yakin, aturan Allah mengandung banyak hikmah, dan hanya bisa dimengerti dan dipahami bagi yang mempercayainya.

Tak kupingkiri banyak lelaki yang hadir dalam kehidupanku, ingin serius denganku menjalani masa depan, namun pada akhirnya mereka tidak ada yang berani untuk 'nembung' orang tuaku. Bagiku itu indikasi sebuah ketidakseriusan dalam melangkah. Lalu aku pun melupakan mereka semua dan melabeli mereka 'pengecut'. Terserah apa kata mereka ketika aku melabeli lelaki yang seperti itu dengan kata 'pengecut'. Karena bagiku itu adalah sebutan yang sangat pantas. Dalam pikiranku, lelaki yang baik, yang soleh, yang 'tegap' dalam melangkah, apalagi ke sebuah batu loncatan pertama untuk menjalani sebuah masa depan adalah lelaki yang pantas untuk diperjuangkan pada masa kini apalagi untuk masa depan.

Tahun 2011 awal, aku semakin menguatkan ikhtiarku untuk segera menikah. Disamping aku sudah lulus kuliah, aku juga sudah bekerja, dan yang terpenting pekerjaanku berada di perantauan. Itulah salah satu yang aku pikirkan. Jika diperantauan aku sendiri, sepertinya akan tidak baik karena takut mengundang fitnah. Apalagi aku mengontrak rumah sendiri. Yahhh walopun rumah kontrakanku tidak begitu jauh dari tempatku mengajar. 

Mulai dari macam2 Salat Sunnah (Tahajud, Hajat, Dhuha), rajin tilawah, puasa Senin-Kamis, sedekah, aku jalani. Terutama juga dengan menguatkan doa khusus untuk mendapatkan jodoh. Tapi hingga mudik lebaran tahun 2011, belum juga ada tanda2 pinangan dari seorang lelaki. Hingga aku harus mengalami semacam 'depresi' karena takut ditanya2 oleh keluarga besar tentang pernikahan. Dan betul juga, tak sedikit saudara yang bertanya pada saat itu,"Mana pacarmu?". Fyi, keluarga besarku bukan keluarga yang sepenuhnya memahami Islam dengan baik dan benar, yah bisa disebut sebagai orang awam lah, yang masih berpikir bahwa kalau mau nikah ya harus pacaran dulu. Kurang lebih seperti itu. 

Libur lebaran di kampung, dengan berbagai pertanyaan tentang pernikahan yang menghampiri, akhirnya aku bermuhasabah panjang. Apa sebenarnya yang mengganjal jodohku? Hingga tak kunjung datang. Ibuku sudah menyemangatiku bahwa aku tidak perlu kuatir masalah itu karena aku masih muda, masih 21 tahun. Tapi tetap saja, keinginanku untuk menikah sudah datang sejak aku usia 16 tahun. 5 tahun menanti itu rasanya tidak sebentar ya pemirsa ... 

Setelah bermuhasabah panjang disertai diskusi yang panjang juga dengan para sahabat, maka aku dapati bahwa niatanku menikah mungkin salah, atau mungkin kurang tepat. Selama ini aku ingin menikah biar ada yang menjaga atau menemaniku saja. Dan mungkin itulah yang membuat aku harus lama menunggu jodohku. Mungkin Allah ingin membuat aku sadar bahwa niatan menikah itu harus dibenerin dulu.

Bismillah ... sekembalinya aku ke Jakarta, aku teruskan ikhtiarku (yang tadi diatas) dan membenahi niatanku untuk menikah. "Aku niat menikah untuk ibadah dan dakwah". Mudah2an Allah mengirimkan aku lelaki yang soleh yang bisa membimbing aku dan membantuku dalam beribadah dan berdakwah di masa depan.

Beberapa waktu berjalan ... Kalau tidak salah ingat tanggal 10 September 2011 ada yang mengirimiku pesan. 

"Saya sudah waktunya menikah, dan saya rasa teteh juga sudah berusia cukup matang untuk menikah. Bagaimana jika saya ingin serius dengan teteh?"

Aku kaget sekali mendapatkan pesan itu, tapi kagetnya sebentar saja karena aku langsung tertawa terpingkal2 sambil membalas pesannya.

"Ah si akang ini bisa saja. Becanda kok sampe segitunya. Sok atuh kalo berani datang ke rumah saya dan bilang sama orang tua saya. Paling juga tidak berani."

Aku membalas pesannya sekenanya karena dia adalah rekan kerjaku, sekantor. Pada saat itu kami sama2 guru Bahasa di sekolah. Aku guru Bahasa Inggris dan dia guru Bahasa Arab. Aku juga tidak pernah terpikirkan tentang lelaki semacam ini karena disamping usianya yang terpaut sangat jauh denganku, dia notabene adalah orang Sumatera. Bapakku pernah memberiku syarat bahwa aku tidak boleh menikah dengan orang yang rumahnya nyebrang laut. Aku tidak tau persis apa alasan Bapakku melarangku menikah dengan orang pulau lain, tapi yang jelas kalo Ibukku, dia akan kuatir kalo berjauhan dengan putri semata wayangnya ini. (Aku punya 2 adik yang semuanya laki2)

Beberapa hari kemudian dia meminta biodataku. Aku memang sudah lama menyiapkan biodata untuk ta'aruf.

"Boleh, tapi biodataku pake Bahasa Inggris ya."
"Tidak apa2 teh. Alhamdulilah saya pernah kursus di Pare selama beberapa minggu, jadi lumayan paham dengan Bahasa Inggris."

Kami di kantor bersikap biasa saja, karena aku ga begitu serius menanggapi ta'aruf ini. Yah kan karena dia belum bertemu dengan orang tuaku di kampung. Komunikasi kami tentang ta'aruf ini juga hanya kami obrolkan via sms dan tidak menyinggungnya sama sekali selama berada di sekolahan, jadi tidak ada seorang pun yang tau.

Kira2 sepekan pasca bertukar biodata, dia mengungkapkan akan mendatangi orang tuaku di kampung. Akhirnya aku biarkan dia untuk datang ke kampungku. Entah bagaimana dia 'melobi' Bapakku, tapi yang jelas aku melihat Bapakku tidak keberatan. Ternyata eh ternyata ... Bapakku tidak keberatan karena biarpun dia tinggal di Sumatera, dia tetap berdarah Jawa, walopun Jawa nya Jawa Timur. Dan juga dia seorang Hafidz, gelarnya Lc. Kata Bapak, "Yo ga po2 nek kuwe seneng." Lhahhh  ... kan aku belum bilang apa2. Tapi karena aku sangat mengenal Bapakku, makanya aku tau dia ga keberatan. Dan akupun bismillah saja . Karena aku juga sudah cukup menyimpulkan bahwa dia bukan lelaki yang pantas untuk ditolak apapun alasannya. 

Beberapa hari kemudian, dia pulang ke Palembang untuk menemui orang tuanya sambil membawa fotoku. Alhamdulilah tanpa diskusi panjang, orang tuanya menyetujuinya dan hari berikutnya langsung menentukan tanggal pernikahan. Uniknya ... semua hal pembicaraan tentang pernikahan kami dilakukan via telpon. Pihak lelaki menelpon orang tuaku, begitu juga sebaliknya. Bapak Ibukku alhamdulilah sangat memahami karena kondisi pihak calon besan yang jauh dan orang tua pihak lelaki sudah cenderung sepuh.

Untuk pembicaraan tentang hari pernikahan awalnya sangat ruwet bin ribet. Karena kami sama2orang Jawa dan harus menghitung dengan pertanggalan Jawa. Akhirnya diberikan pilihan tanggal 25 November 2011 (kalo tidak salah ingat). Aku menolak dengan keras. Menurutku itu terlalu lama. Sedangkan yang aku yakini adalah ketika kedua pihak sudah sepakat dan tidak ada kendala yang syar'i maka sebuah pernikahan harus disegerakan. Dalam Islam ada 3 hal yang harus disegerakan: 
1. Shalat ketika sudah tiba waktunya,
2. Jenazah yang sudah siap dimakamkan,
3. Menikahkan wanita yang sudah menemukan pasangannya.

Kemudian aku bertanya kepada Mbah ku, apakah ada pilihan tanggal lain selain itu? Qadarullah ... ternyata diberikan tanggal 21 Oktober 2011. Ya tanpa teding aling2 aku langsung mengiyakan aja di tanggal itu. Ternyata hari itu bertepatan dengan hari yang diberikan Mbah kepada orang tuaku untuk mengkhitankan Gilang, adek bungsuku.

Ketika seminggu sebelum hari aqad nikah, kami berdiskusi tentang Mahar dan uang seserahan. Karena jujur pada saat itu kami tidak punya uang tabungan yang banyak, yang mungkin bagi orang lain hal seperti itu akan membuat panik. Tapi alhamdulilah kami tidak begitu adanya. Kami komunikasikan baik2 kepada kedua orang tua kami. Dan alhamdulilah semua dimudahkan Allah. Calon mertuaku memberiku gelang dan kalung emas dan beberapa rupiah untuk membeli Gamis, Sepatu, dan Tas (yang akhirnya aku belanjakan di Tanah Abang karena murah). Dan kami berdua sepakat untuk meminjam uang di yayasan tempat kami mengajar untuk melengkapi kebutuhan yang lainnya terutama kebutuhan transportasi kesana kemari dan juga membeli cincin. Aku ingat banget harga cincin nikahku pada saat itu 1,050,000 rupiah. Karena aku diberi uang oleh calon suamiku untuk kemudian membelikannya sendiri. :D Hehehe Akhirnya beli cincin sendiri, milih sendiri :')

Namun sehari setelah itu, musibah datang menimpa calon suami. Motor Tiger nya yang baru dia beli setahun, hilang ... dimaling orang ... waktu dia sedang silaturahim di STID Al Hikmah Jakarta Selatan. Ketika aku diberi tau hal itu, ingin segera menangis, karena walobagaimanapun itu adalah termasuk aset kami pasca menikah nanti. Tapi mendengar suaranya yang begitu tenang, aku jadi menahan tangisku dan mendengarkan dia bilang seperti ini: "Saya ikhlaskan motor itu hilang, karena saya sudah berazzam tidak akan menangisi atau sedih ketika kehilangan sesuatu yang bersifat duniawi. Saya tidak ingin terikat dengan duniawi. Saya tidak ingin lemah karena hal2 duniawi. Jadi teteh juga tidak perlu sedih. Insya Allah nanti ke depannya akan mendapatkan  ganti yang lebih baik."

Deg ... serrr ... hatiku berdesir ... dan aku meyakini bahwa pada saat itulah aku mulai menaruh hati pada lelaki ini, lelaki yang sudah meminangku, di depan orang tuaku. Ya ... aku menangis pada akhirnya di hari itu. Tapi aku menangis bukan perihal kehilangan motor. Tapi lebih kepada sebuah kesadaran, bahwa lelaki yang meminangku ini bukan sembarang lelaki, bukan lelaki biasa, bukan lelaki pada umumnya, tapi lelaki yang sudah dipilihkan Allah untukku, untuk masa depanku, untuk membimbingku menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tanggal 4 Oktober 2011, hari Selasa, ketika ada rapat mingguan di sekolah, kami mengumumkan tentang pernikahan kami kepada seluruh guru. Dan alangkah terkejutnya mereka semua karena mereka tidak menyangka akan mendapatkan kabar ini dari kami. Karena memang tidak pernah terlihat ada tanda apapun. Jadi intinya kami berhasil jaga rahasia :D hihihi Dan pasca itu, ada beberapa siswa yang menyatakan kekecewaannya karena mereka yang complain tentang pernikahan kami adalah siswa2 yang menaruh hati juga kepada calon suamiku. Hehehe Saya hanya bisa merespon,"Doakan kami menjadi pasangan yang terbaik menurut Allah. Teteh yakin kalian juga suatu hari nanti akan mendapatkan jodoh yang terbaik dari Allah selama kalian melakukan ikhtiar terbaik." Dan saat ini anak2 yang complain itu sudah pada punya anak. Hehehe 

Tanggal 18 Oktober 2011, calon mertua dan semua saudara iparku berangkat dari Palembang menuju Jakarta. Kemudian bersama dengan calon suamiku tanggal 19 Oktober 2011 mereka semua bertolak ke Kudus. Tanggal 20 Oktober 2011 mereka sampai di Kudus dan saking bergetarnya kakiku, aku sampai terbata2 ketika bicara dengan calon keluargaku itu. Bahkan aku tidak berani menatap lelaki itu ... lelaki yang keesokan harinya menghalalkanku untuknya. Aihhh ... 

Tanggal 20 Oktober 2011 di malam harinya, dilaksanakanlah acara Khitbah. Keluarga besan untuk sementara menginap di rumah Om ku, yang tak begitu jauh dari rumahku. Qadarullah keluarga besarku tinggal berdekatan jadi tidak begitu repot ketika ada acara besar semacam ini. 
 


 *ini dia calon suamiku, ini foto ketika dia di rumah Om ku, sementara keluarganya sedang mengkhitbahku di rumahku.

 *dan ini bentukku ketika dikhitbah :D aku hanya menunggu di belakang sambil ditemani Mbah Rayi (almarhumah). 

Tidak ada acara tukar cincin atau upacara seserahan apapun, karena cincinnya akan diberikan ketika aqad nikah sudah selesai dan seserahannya sudah diberikan sebelumnya secara informal. Di acara khitbah itu hanya ada acara silaturahim dan ta'aruf antar keluarga besar dan juga menyerahkan 'uang tukon' sebesar 2 juta rupiah. 'Uang tukon' adalah semacam uang membeli anak gadis orang, kalo bagi orang lain mungkin complain ya, tapi beruntungnya aku mempunyai orang tua yang sangat pengertian, mereka menerima tanpa complain sedikitpun, karena memamahi bahwa keluarga besannya adalah keluarga petani. Alhamdulilah ... kuasa Allah. Padahal sebetulnya Ibukku termasuk matre. :D Tapi Allah telah melembutkan hatinya. Allahu Akbar ... 

Tanggal 21 Oktober 2011 pukul 08.00 wib, Alhamdulilah dia menghalalkanku. Tidak ada video nya ... sayang sekali ... padahal Bapakku mengijabkan sendiri, menggunakan bahasa Arab pula. (Hari sebelumnya, sebelum khitbah, Bapak minta diajarin sama calon suami dulu hihihi :D)

أنكحتك وزوجتك ابنتي ساريندرى ديوي جونطور فراهارى  بنت سوبنا بمهر ........


 قبلت نكاحها وتزويجها بالمهر المذكور

  بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير

 *aku masih ingat betapa canggungnya moment ini, karena ini adalah sentuhan pertama kami. Tanganku sampai bergetar karena gugup.
 *Ini maharku, Seperangkat alat solat, perhiasan (cincin, kalung, gelang), puisi cinta dan hapalan QS Ar Rahman. :D
 *Seperti yang aku bilang di awal bahwa ketika khitbah tidak ada acara tukar cincin karena cincinnya baru disematkan olehnya disini, ketika kami sudah halal.
 *di dalam buku nikah, mahar yang ditulis hanya seperangkat alat solat, kata bapak2 yang dari KUA "ga usah ditulis semua ya mba, kepanjangan", hadeuhhh ...
*this is it ... sudah halal di mata Allah dan juga negara :D

FATA FAUZI,Lc & SARINDRA DEWI GP,S.Pd


*this is our first kiss ... itupun karena dipaksa tukang potonya :D untung aku ga pingsan karena malu, ya masa diikutin tukang potonya ampe kamar. :D


 *ini orang tua kami.
 *ini adek2 iparku.

 *dan ini adek2 kandungku.

Aku merasa pernikahanku sangat diberkahi Allah. Ya karena dengan waktu yang sangat sebentar, semua urusan dimudahkan. Orang tua ku awalnya sungguh tidak punya uang banyak. Aku menenangkan mereka untuk mengadakan acara walimahan yang sesederhana mungkin. Karena menurutku masih akan ada jalan hidup yang lebih panjang yaang harus dijalani setelah menikah nanti. Jadi aku berharap, orang tuaku tidak usah berhutang kesana kemari untuk mengadakan acara yang mewah atau semacamnya. Ibukku sempat kuatir dengan efek yang akan timbul jika tidak dimeriahkan, salah satunya adalah Ibukku takut dikira pelit karena tidak membuat acara pernikahan putri satu2nya dengan besar, sedangkan Bapak pada saat itu adalah tokoh di kampung kami. Dan juga takut kalo orang2 akan menuduhku hamil duluan atau semacamnya lah, karena mendadak sekali. Aku berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan Ibukku bahwa tidak usah mikirin omongan orang lain lah ... biarkan mereka berpikir sesuka mereka. Toh Ibuk selalu mengajariku untuk cuek kan dengan kata orang.

Alhamdulilah benar ... konon beberapa hari sebelum acara walimahan, temen2 Ibuk yang tergabung dalam komunitas perias di Kudus bilang ke Ibuk kalo mereka akan menjadi penata rias ku, dan itupun bayar sesuka Ibukku, bahkan jika tidak dibayarpun tidak apa2. Untuk baju pengantin juga tidak usah sewa, nanti akan dipinjami. Dekorasi penganten dipinjami salah satu Om ku yang memang berbisnis di bidang itu. Makanan2 seperti kue, soto, dan es, semuanya kebanyakan di 'songgo' bareng2 sama Bulek2 dan Budhe2 ku, tenda juga diberikan diskon yang luar biasa dari pihak RT ... Ya Allah ... benar2 nikmat mana lagi yang bisa aku dustakan? Jadi antara 10-15 juta lah habisnya ... untuk semua keperluan lho itu. 

Bagi teman2 seakan tidak mempercayainya kan? Itulah Allah ... Selama ada Allah di hati kita, selama kita yakin Allah akan bantu kita, pasti Allah akan sesuai dengan persangkaan hambaNya. Apalagi untuk menikah ... Menikah adalah ibadah. Penyempurnaan Dien. Bagaimana mungkin Allah tidak akan bantu kita selama kita benar2 berniat untuk 'menyempurnakan Dien'? Itu yang aku yakini hingga sekarang ... bahwa selama kita yakin Allah akan bantu kita, pasti Allah akan bantu, dengan caranya yan paling indah, dengan caranya yang tak kan pernah kita sangka dari mana arah datangnya ...


Bagi kawan yang belum menikah, mungkin cerita ini bisa menjadi inspirasi, agar untuk ke depannya bisa mempersiapkan diri dengan yang lebih baik lagi. Terutama dalam hal memperbaiki niat untuk menikah ya ...

Bagi kawan yang sudah menikah, perjalanan masih panjang euyyy ... Maka tetaplah bersemangat menjadikan pernikahan kita semua sebagai ladang untuk beribadah, untuk panen pahala, untuk merayakan cinta sejati yang diberikan Allah kepada kita, dan untuk memenangkan setiap perlawanan dengan syaitan2 terkutuk.

Alhamdulilah ... semoga bermanfaat ... 

*Ummi Ghazaa   
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar